Akar Pemikiran Filsafat Kontemporer

Disusun Oleh: Oleh: Haydar Nabris Muhammad*

Tidak ada sesuatupun yang wujud kecuali Tuhan, Segala yang ada selain tuhan adalah penampakan lahiriyah dari-Nya”

-Wihdatul Wujud, Ibn Arabi

DALAM suatu sidang penelitian professor di kampus saya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ada beberapa argumen yang terus berulang di dalam kepala saya, yaitu pertanyaan mengenai mengapa muslim sudah tidak memproduksi keilmuan lagi?. Seorang peneliti menjawab berdasarkan penelitiannya yang mendalam dengan simpel, karena muslim tidak membaca, saat muslim membaca, mereka tidak memahaminya, saat mereka memahaminya, mereka tidak mengamalkannya, jika pengamalan saja tidak terjadi, bagaimana mungkin mampu memproduksi keilmuan.

Pemikiran selalu menjadi objek yang damai, serusak apapun suatu pemikiran, sudut pandang pemilik pemikiran maupun sudut pandang pemikiran itu sendiri tidak pernah merangsek menerobos batasan pemikiran. Dasar dari pemikiran menentukan alur dari pemikiran itu sendiri, pengalaman kita tidak mampu di beli dan tidak mampu di replika untuk di rasakan oleh orang lain, setidaknya untuk saat ini.

Pengalaman kita menentukan pilihan hidup kita, jalan yang kita tempuh, bahkan agama yang akhirnya kita cintai pertarungan kesadaran atau pemikiran memang sering terjadi dalam ranah akademis, namun ini merupakan pandangan yang terlalu sempit untuk dapat ditelaah, dikotomi dan hegemoni pemikiran sudah mendarah daging menjadi santapan “khusus yang ngerti” dalam buku Politik Pendidikan oleh Paulo Freire.

Dalam buku tersebut, disinggung mengenai petani filsuf dengan pembingkaian yang kurang manusiawi, jangan salah tangkap, Paulo Freire dalam bukunya menentang pembingkaian seperti ini. menurutnya baik itu petani ataupun saudagar, pemikiran tetaplah pemikiran, kita sebagai makhluk yang merasa lebih superior seringkali lupa dan mencekoki mereka yang kurang paham dan mampu mencerna apa yang kita pahami, sembari kita meremehkan pemahaman mereka, kita melupakan kebutuhan mereka, apakah mereka memang membutuhkan apa yang kita berikan? atau kita menuding dan menunjuk bagaimana tidak beradabnya mereka karena mereka tidak sama seperti kita. manusia yang memang pada hakikatnya membenci sesuatu yang berbeda dari dirinya (secara komunal) secara primitif melontarkan dua opsi, Join Us or Dissapear.

Filsafat kontemporer sebagai bagian dari pemikiran kontemporer menekankan untuk menjadikan filsuf baru sebagai pemimpin dari pertanyaan dan penyampai hasil atau solusinya.

Seorang filsuf, perlu dan harus mampu mengetahui lebih, dan memulai langkah awal dari orang lain, dan memagari daerah pemikirannya secara spesifik, filsafat kontemporer hingga saat ini masih mempengaruhi pandangan dan sistem secara teknis, juga dalam struktur sosial, dalam kejiwaan, dan akademik pada umumnya. namun, muslim yang seringkali kebakaran jenggot karena kaget dengan bagaimana eropa berkembang, muslim yang seringkali kaget dengan produksi keilmuannya, lebih banyak tenggelam kepada ketidak pedulian atau kepada kecurigaan, kecurigaan muslim kepada dunia barat, ataupun sebaliknya, bahkan muslim dengan muslim lainnya merupakan bentuk evolusi insting primodial, insting yang terbentur dengan hukum dan aturan aturan.

Sehingga konsekwensinya berevolusi menjadi entitas baru yang lebih kompleks dan problematik, insting pada dasarnya muncul untuk bertahan hidup, muncul untuk melindungi dan merasa damai, banyak orang yang mengembangkan cara bertahan hidupnya dengan cara yang lebih passif seperti menghindari masalah ataupun mencegah masalah, tentunya banyak juga yang berkembang secara tajam dan sedikit problematik, insting seorang muslim untuk menghadapi suatu pemikiran yang berbeda kadang muncul dengan sedikit berlebihan bukan untuk bertahan hidup, bukan untuk melindungi dirinya, namun untuk melindungi kepercayaan yang di bawanya, kejayaan yang di kenangnya, ke agungan akan “kenangan” dari kepercayaan muslim, di Indonesia khususnya lebih sering memilih tenggelam dalam kejayaan masa lalu, merasa “piye, enak jamanku toh?” “ah, sekarang mah begini, kalau dulu….” juga tenggelam dalam keadaan metafisis, disini saya tidak mengesampingkan atau mendikotomi metafisis.

Namun, kelemahan tenggelamnya muslim kepada metafisis yang berlebih justru mampu menggeser pandangan ketauhidan seorang muslim itu sendiri, akibatnya? Semakin jauh dari kebenaran. Semakin jauh dari ilmu pengetahuan yang di produksi menurut Ibn Arabi sendiri, manusia secara unik akan menemukan jalan menuju kebenaran, yang pada akhirnya menyatukan seluruh jalan kebenaran itu sendiri. Mengapa pemikiran ibn arabi menjadi akar pemikiran filsafat kontemporer? Jika dilihat di permukaan, sedikit korelasi yang mampu di temukan, ibn arabi sepertinya hanya menjadi inspirasi untuk tokoh filsafat kontemporer.

Kontroversi Ibn Arabi dalam dunia islam sendiri sebenarnya adalah fondasi yang men gawali pemikiran kritis dan radikal versi filsafat kontemporer itu sendiri, jika muslim mau dan bertekat belajar lebih dalam, ketimbang terkunci dalam masa lalu ataupun meningkatkan permusuhan dengan dunia barat, lebih banyak pencapaian yang mampu digapai.

*Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.