Jomblo Itu Anugerah Bukan Musibah

Oleh : Heru Nuresin Septiani*

Salah satu ciri generasi milenial kekinian adalah galau karena kejombloan. Selalu merasa kesepian dalam setiap harinya, pokoknya tiada hari tanpa meratapi nasibnya menjadi jomblo. seolah menjadi jomblo adalah musibah, seperti tsunami yang mampu meluluhlantakkan megahnya rasa bahagia menjadi duka nestapa.

Seolah menjadi fakir asmara berarti menjadi manusia paling nista, teralienasi dari kaumnya, padahal jomblo itu anugerah. Bebas melakukan apapun sebelum terikat sebuah janji suci pernikahan. Sebenarnya menikah bukan sebuah gerbang yang membatasi kreatifitas, tetapi dengan menikah ada bebas yang terbatas ada batas yang terbebas.
Jomblo menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri merupakan bentuk tidak baku dari kata jomlo, yang berarti pria atau wanita yang belum memiliki pasangan. menjadi jomblo bukan berarti kita harus mengutuk takdir. ada banyak hal yang bisa kita ratapi, tapi milyaran nikmat yang harus kita syukuri. kesendirian mengajarkan kita agar menghargai keberadaan orang lain, seperti Adam yang dibiarkan jomblo terlebih dahulu sebelum Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Tentu bukan hanya karena Adam kesepian lalu Tuhan menghadirkan Hawa sebagai penghilang sepi. Jika Tuhan menciptakan Hawa hanya sebagai penghilang sepi belaka maka aku lebih memilih dilahirkan sebagai laki-laki atau tidak dilahirkan sama sekali.
Tuhan sengaja membiarkan Adam sendiri dulu agar dia merasa perbedaan sebelum dan sesudah ada Hawa dalam hidupnya, mampu menghargai Hawa sebagai pasangannya, komplemennya. Artinya tanpa Hawa, Adam hanyalah remah cireng yang terbuang terbawa angin menjadi butiran debu, gak berarti apa-apa. sendiri juga mengajarkan kita untuk lebih memanfaatkan waktu pada hal yang lebih berfaedah. Aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan misalnya, mengaktualisasikan segala potensi terus lampaui batas diri. Kalau kata Nyai Ontosoroh, “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tetapi, bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk dicintai”
Pacaran itu pembodohan dan pemborosan, seseorang akan meleburkan entitas dirinya pada orang yg ia cintai hingga ia kehilangan identitas dirinya sendiri. Pacaran juga bikin dompet cepet kempes. setiap minggu harus nonton, setiap bulan harus Travelling. belum lagi biaya kuota untuk WA, video call dan chatting 24 jam nonstop kaya anumart, iya anu. coba hitung berapa biaya pacaran kita dalam sebulan, dalam setahun, dalam 3 tahun ? lunas sudah cicilan kredit motor metik.
aku bukan membenci kalian pasangan yang sedang berpacaran, bukan juga sedang kampanye nikah muda. aku hanya ingin menyadarkan sahabat kita, kaum jomblowan-jomblowati yang hampir mampus dikoyak-koyak sepi bahwa meratapi kejombloan adalah hal yang lebih menyedihkan dari menjadi jomblo itu sendiri.  Meski katanya zomblo lebih menyeramkan dari zombie, sesungguhnya tidak memiliki target hiduplah yang lebih menyeramkan. Jadi, kalo ada yang nanya kamu jomblo yaa ? Jawab aja apa hak anda menanyakan  hal itu pada saya ? Atau sori yaa gue jojoba (jomblo-jomblo bahagia) anggota ijo lumut (ikatan jomblo lucu dan imut) Muehehehe

Finally, nikmatilah masa sendirimu, habiskan jatah waktu jomblomu dengan petualangan menyenangkan penuh tantangan sebelum bahagia bersama pasangan halalmu nantinya.

Jadilah kalian jomblo yang Budiman dan  bermartabat,

Salam jomblo dari aku yang udah gak jomblo lagi.

*Penulis merupakan mantan mahasiswa Universitas Wiralodra Indramayu.