Merdeka atau Mimpi!

Pemuda dari Karangampel Kabupaten Indramayu dan Mahasiswa Semester Akhir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pemuda dari Karangampel Kabupaten Indramayu dan Mahasiswa Semester Akhir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Oleh: Haydar Nabris Muhammad*

“Saat dua gajah bertarung, rerumputanlah korbannya”

    -Wong Dzolim-

Melewati bulan kemerdekaan, deru nafas kemerdekaan dan nasionalisme masih berhembus, terimakasih kepada asia games, semangat nasionalisme di perpanjang kontraknya sampai akhir bulan. Dwi warna yang dilepas menandakan berakhirnya bulan sakral kemerdekaan. 73 tahun merupakan usia yang relatif tua jika dibandingkan dengan harapan hidup penduduk Indonesia yang hanya berkisar 60-65 tahun.

Usia tersebut bukan lagi bagian dari usia produktif apabila diukur menggunakan ukuran ketahanan hidup manusia, generasi milenial biasa menyebutnya dengan masa keemasan.

Beruntungnya, itu tak berlaku bagi usia suatu bangsa. Karena, baik tua ataupun mudanya usia bangsa ini, akan selalu diisi oleh komposisi manusia yang sama disetiap tahunnya. Bangsa sebagai ruang mati yang hidup atau perannya ditentukan oleh manusia di belahan buminya. Bukanlah “bangsa” yang mampu menentukan arah dirinya akan berjalan. Bukanlah “bangsa” yang mampu menyelesaikan masalah di dalam dirinya. Melainkan, manusia di dalamnya yang harus berfikir dan menemukan solusi untuk masa depan dan problema yang menimpa bangsa tersebut.

Pendahulu selalu berkata bahwa “Bangsa ini adalah bangsa jang besar”. Memiliki wilayah geografis luas, setidaknya lima juta Kilometer persegi, di dalamnya memiliki manusia dan budaya yang beraneka ragam. Besarnya perjuangan dalam melawan imperialisme dan kolonialisme. Pembebasan tanah air dari cengkeraman penjajah yang mengorbankan banyak sekali nyawa dan beragam bentuk penganiayaan.

Tanggal 17 Agustus menjadi momen sakral bagi bangsa Indonesia. Sorak riang dalam menyambut momen tersebut terdengar di setiap sudut tanah air. Berbagai persiapan dilaksanakan, rupiah dikeluarkan. Tanggal tersebut adalah momen untuk mengingat leluhur yang bersusah payah dalam perjuangannya. Sehingga kita dapat hidup di tanah air ini tanpa harus berpeluh mengangkat senjata. Namun terkadang kitapun mendengar “kapan lagi mengingat leluhur kita kalau tidak dalam momen sakral seperti ini”.

Status dan foto tentang kemerdekaan memenuhi dan merubah tampilan di media sosial. Tanpa perlu bermusyawarah, serentak sepakat untuk mengubah status serta wall media sosialnya dengan bumbu khas kemerdekaan. Tanpa diharuskan untuk mengerti dan memahami kata merdeka yang di dalamnya. Hal semacam ini menjadi “ekstasi komunikasi” yang menimbulkan gejala “epilepsi komunikasi”. Kenapa tidak demikian?

Framing kemerdekaan di media masa menyita perhatian publik secara sempurna, publik terhentikan sejenak untuk memikirkan penderitaan yang dialami oleh dirinya. Segala bentuk tindakan diskriminasi, perampasan hak asasi, dan pelecehan seksual tergeser. Hal tersebut menjelma menjadi untaian kata “Merdeka!”. Beban hidup yang di tangung selama ini seolah hilang dalam momen sakral. Namun, tidak satupun menyadari bahwa semua hanyalah sebuah Pseudomerdeka.

Tidak hanya itu, penggalian makna kemerdekaan ataupun pengkajian makna perjuangan tidak pernah muncul dalam momen sakral seperti bulan ini. Apalagi untuk merefleksikan kinerja yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Terlebih lagi tidak ada waktu untuk memikirkan kemana arah bangsa ini nantinya. Karena dalam momen itu (masyarakat) tidak diperkenankan untuk memikirkan hal yang sangat fundamental. Secara spontan kita diarahkan untuk membuat perayaan yang megah dan menyenangkan.

Akibatnya secara psikologis, masyarakat harus senang dan bangga ketika memasuki bulan Agustus. Tanpa dituntut untuk mengetahui kenapa kebanggaan itu harus dimunculkan dan sikap seperti apa yang harus diberikan kepada bangsa. Karena kegiatan temporal tersebut tidak pernah mengandung unsur pendidikan, sehingga tidak ada ikatan emosional dengan para leluhur yang bersusah payah membebaskan tanah air. Ketika peristiwa ini dilihat secara sosiologis, bangsa Indonesia hanya mengalami merdeka setiap tanggal 17 Agustus.

Merdeka menjadi kata yang mengalami reduksi makna yang besar apabila dikontekstualisasikan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. sedangkan di atas meja di ramaikan dengan banyak sekali issue remeh temeh yang berulang di sorot untuk mengalihkan pandangan masyarakat, sehingga mau tidak mau suatu masa nanti akan muncul sebuah revolusi, revolusi komunikasi, revolusi yang muncul untuk membebaskan kita dari penjajahan informasi dan kesewenang wenangan wawasan. mengembalikan kita kepada pokok pemikiran yang fundamental dan menyeluruh. kepada kesadaran yang hidup dan nyata, aktif dan manusiawi, revolusi yang bermula di tanah air kita sendiri.

Dengan demikian, kita mampu secara immaterial memutar balikan status quo dan diperhitungkan dalam skala global.

 

*Penulis merupakan Pemuda dari Karangampel Kabupaten Indramayu dan Mahasiswa Semester Akhir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.