Nikah Muda? Gak Keren !

Oleh : Heru Nuresin Septiani*

Sujiwo Tedjo berkata, menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tidak bisa merencanakan cintamu untuk siapa. Saya pribadi setuju dengan pendapat beliau, bisa dihitung dengan jari orang yang menikah karena sama-sama cinta. Selebihnya, hanya salah satu yang cinta, beberapa dijodohkan, banyaknya diterima karena iba, dan banyak pertimbangan lain yang hanya orang itu dan Tuhannya yang tau.

Boleh dibilang orang menikah itu ada yang secara sukarela ada juga karena terpaksa. Pasangan yang menikah karena saling mencintai berarti mereka menikah secara sukarela, selebihnya karena terpaksa. Selesai! Padahal kata marx, bahwa rindu hanya bisa ditukar dengan rindu, cinta dengan cinta, cemburu dengan cemburu. Jika anda mencintai tanpa membangkitkan cinta, membuat diri anda sebagai orang yang dicintai, maka cinta anda tumpul dan mengenaskan.

Kita tentu memiliki standar, kriteria pasangan yang ingin kita nikahi, ganteng, cantik, setia, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, nurut pada mama papa dan sayang aku selamanya, eaaakksss. Aku gak mau sama si A, dia kalo ngomong bibirnya jumping, atau aku gak mau sama dia, aku suka india dianya suka korea, kita ga jodoh. Tapi seiring bertambahnya usia, semua kriteria seolah menghilang dengan sendirinya, satu persatu hingga hanya tersisa satu kriteria; yang penting dia mau aja lah!.

Bagi saya menikah itu perjudian terhebat dalam hidup. Bukan soal kalah menang atau untung rugi. Tetapi soal mempertaruhkan hidup dan impian pada orang yang tidak sepenuhnya kita ketahui kepribadiannya, isi hatinya, dan belum tentu juga dia jodoh kita. Setelah menikah ada batas yang terbebas, ada bebas yang terbatas, bisa berujung bahagia tapi tidak jarang berakhir menderita, perceraian menjadi solusi dan anak yang menjadi korban atas keegoisan orang tua.

Dalam hal kegagalan ini, perempuanlah yang paling menderita, labelling buruk sebagai janda, seorang janda lebih rentan pelecehan, beban ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anaknya, hilangnya konsep diri anak korban perceraian, beberapa kenakalan remaja subjeknya adalah anak yang orang tuanya bercerai,  perkawinan anak bagi anak perempuan demi mengurangi beban sang ibu dan bisa berujung pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Dari hal sakral dan suci bisa berujung pada hal yang dibenci. Menikah adalah pertaruhan hidup, impian dan masa depan.

Sayangnya, hari ini ada trend nikah muda yang masif dikampanyekan, membuat ABG-ABG labil ngebet minta dikawinin, hanya bermodal kata cinta, tanpa memikirkan biaya resepsi di Indonesia yang WOW dan biaya hidup setelahnya. Saya pribadi menolak keras kampanye tersebut, menikah tidak hanya untuk sehari-dua hari, setahun dua tahun, tetapi bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun hidup dengan orang yang tidak hanya memiliki jenis kelamin yang berbeda, tetapi juga memiliki karakter berbeda, pola pikir berbeda, kebiasaan yang berbeda dan hal-hal berbeda lainnya, sekecil apapun itu, beda merk shampoo misalnya. Selain itu, setelah menikah tentu kita akan memiliki keturunan yang harus kita jamin kehidupannya dengan layak, sandang, pangan, papan dan pendidikan.

Dalam kegamangan memilih pasangan, beruntungnya dalam agamaku, Islam. Saya diberi kisi-kisi tips and trik memilih pasangan, yaitu pilihlah pasangan yang baik rupanya, baik keturunannya, setara hartanya, dan baik agamanya. Dari keempat kriteria tersebut, faktor agamalah yang paling didahulukan, ketika pasangan kita tidak terlalu rupawan, harta pas-pasan, keturunan biasa aja tapi agamanya luar biasa, maka segera nikahi! Tetapi ketika usia sudah cukup, sekarang sedang gencar program pendewasaan usia perkawinan, yaitu usia minimal perkawinan untuk perempuan adalah 20 tahun dan 25 tahun untuk laki-laki. Tentu bukan tanpa alasan program ini ramai dikampanyekan, bersaing ketat dengan kampanye nikah muda yang berujung dibisniskan.

PUP atau pendewasaan usia perkawinan bukan hanya menunda perkawinan sampai usia tertentu saja, tetapi mengusahakan agar kehamilan pertama terjadi pada usia yang cukup dewasa untuk mengurangi resiko keguguran, kesulitan persalinan, bayi lahir sebelum waktunya, kanker leher rahim, dan lain-lain. Selain itu, PUP juga memberikan kesadaran kepada remaja agar dalam merencanakan keluarga mempertimbangkan banyak aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental emosional, pendidikan, sosial ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.

Hal serupa dilakukan juga oleh KPI (Koalisi Perempuan Indonesia), selain gencar mengampanyekan penghapusan perkawinan anak ke Desa-Desa dan tagar STOP Perkawinan Anak di Media Sosial. KPI juga memperjuangkan pendewasaan usia perkawinan dalam Judicial Review UU Perkawinan agar meningkatkan batas usia perkawinan untuk perempuan dari yang awalnya adalah 16 Tahun agar disamakan dengan batas usia minimal untuk laki-laki yaitu 19 Tahun.

Tips lainnya adalah dengan membuat perjanjian pra-nikah, tentang apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh, agar tercipta kesalingan yang baik antara lelaki dan perempuan, suami dengan istrinya. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga harus berbuat baik pada istri dan tidak boleh menyakitinya.

Menikah adalah hak setiap orang, terserah mau menikah pada usia berapapun dan kapanpun. Jika kau menikah hari ini, memutuskan pendidikan dan kehilangan hakmu sebagai anak, okelah itu hidupmu, urusanmu. Tapi, kau harus ingat, anakmu terlampau pantas dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang cerdas, hebat lagi tangguh dan dididik dilingkungan keluarga yang harmonis, tentu kita tidak ingin anak kita tidak bahagia.

*Penulis merupakan Biro Kaderisasi PB KOPRI