Ritual Kramatan, Tokoh Adat Ini Uji Angkernya Pulau Biawak

Khusus Tahun 2019, Persembahkanan Do’a untuk Kedamaian Negeri Pasca Pemilu

UJI NYALI. Tokoh adat Desa Pabean Ilir Wayem mulai saat mempersiapkan rencana uji nyali keramatnya Pulau Biawak.

 

INDRAMAYU – Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Indramayu makin menunjukkan eksistensinya, kini dengan menggandeng tokoh adat Desa Pabean Ilir Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu menggelar Upacara Keramatan di Pulau Biawak dan Do’a untuk Kedamaian Negeri.

Tidak tanggung-tanggung ritual adat tahunan itu langsung dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar DR H Dedi Taufik.

Kepada pena, Ketua Umum Kompepar Indramayu Taufiq Rahman menyatakan, pasca pesta demokrasi tahunan pemilu serentak Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 17 April lalu, konstelasi politik nasional masih memanas akibat adanya klaim masing-masing pendukung Capres Cawapres.

“Untuk mendinginkan suasana tokoh adat dan tokoh masyarakat Indramayu menggelar Do’a untuk negeri dan ritual adat Kramatan di Pulau Biawak Kabupaten Indramayu, ini ikhtiar kami untuk negeri tercinta,” ungkapnya.

Meskipun gerimis menghiasi aktivitasnya, Taufik mengaku tokoh adat Desa Pabean Ilir Kecamatan Pasekan, yang menjadi wilayah geografis Pulau Biawak tetap harus berangkat mengingat kegiatan itu telah dipersiapkan sejak sebulan lalu.

“Kami siapkan kebutuhan untuk ritual adat Kramatan dengan serius, karena kegiatan ini dilakukan di Pulau Biawak rutin setiap jelang Bulan Ramadhan tiba,” terangnya.

Diakuinya, pada tahap persiapan, pihaknya sengaja menggunbakan sebuah rumah adat, dimana hampir seluruh materialnya dari alam. Rumah adat yang masih terjaga keasliannya dari ratusan tahun silam tersebut juga masih banyak dijumpai di desa tersebut.

“Masyarakat adat sekiat Pulau Biawak ini masih meyakini rumah asli masyarakat Indramayu tempo dulu itu menjadi tempat istirahat paling nyaman. Meskipun atap dari welit yang diproduksi sendiri mengambil pelapah Pohon Nipah yang masih banyak tumbuh di sekitar rumah dan pesisir ujung utara Indramayu,” terangnya.

Diakui, rumah adat tersebut juga menggunakan reng penyanggah atap dari bambu begitupun juga dengan tiang rumahnya ditambah dari kayu kelapa dengan alas tanah langsung tanpa keramik.

Selain itu, Tokoh Adat Desa Pabean Ilir Wayem menjelaskan, paling tidak terdapat 33 jenis seserahan yang biasa dibawa di tengah-tengah pulau yang memiliki luas lebih dari 100 hektare tersebut.

Hal itu rutin dilakukan oleh Wayem dan beberapa tokoh adat setiap tahunnya bersama tokoh masyarakat termasuk tokoh lingkungan sekitar sebagai wujud syukur atas karunia alam yang telah diberikan.

“Namun kami tetap memegang teguh nilai-nilai agama Islam, dimana sebelum ritual tersebut, dibacakan do’a secara bersama-sama di Makbaroh Syekh Syarif Hasan tokoh penyebar Islam dan pejuang masyarakat di tanah Indramayu bersama-sama Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati,” ungkap wanita 4 anak tersebut.

Wayem juga menjelaskan, do’a bersama berupa tahlil tersebut akan dipimpin tokoh agama Cirebon putra KH Fuad Hasyim yakni Gus Nouval Fuad Hasyim dari Buntet Pesantren Cirebon. Dimana menurut Wayem tahun ini khusus memanjatkan permohonan kepada Tuhan untuk kedamaian negeri setelah pelaksanaan Pemilu Legislatif dan pemilihan presiden.

“Kami memohon keselamatan untuk Indonesia, berharap dengan karomah atau keramat dari sesepuh Syekh Syarif Hasan bisa membuat persatuan negeri tetap terjaga. Tidak ada keributan apalagi perang sesama warga bangsa karena bedanya pilihan politik,” tuturnya.

Lanjut Wayem, ritual rutin tersebut telah turun temurun diwariskan oleh orang tua-orang tuanya, termasuk menurutnya kakeknya yang bernama Kuwu Wirya selama 35 tahun menjadi Kuwu di Pabean Ilir sebelum negeri ini merdeka yakni sekitar tahun 1940an.

“Selama kakek kami memimpin desa ini, orang tua kami diberikan amanah untuk menjaga Pulau Biawak. Termasuk secara rutin menanami pohon mangrove dan lainnya untuk menjaga pulau tersebut tetap lestari,” bebernya.

Untuk itu pesan dari sesepuh dan nenek moyangnya yang sampai saat ini dilanjutkan anak cucu di desa tersebut selalu menanam pohon saat bulan Sya’ban atau sebulan sebelum Bulan Ramadhan tiba.

“Itu kami lakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kami pulau yang indah dan tokoh pejuang dakwah Islam yang selama ini menjaga pulau itu yakni Syekh Sayarif Hasan,” terangnya.

Diharapkan, pemerintah daerah provinsi maupun pusat untuk ikut menjaga ratusan biawak yang ada di pulau tersebut jika memiliki rencana untuk melakukan penataan. Dalam arti tidak mengganggu keberadaan mereka. “Karena keyakinan tokoh adat disini, dilarang siapapun membunuh biawak yang ada, karena akan sangat berpengaruh terhadap hidup orang yang membunuhnya,” pungkasnya. (her)