Warga Majalaya Curhat Pencemaran Air

PerisaiNews, (BANDUNG) – Warga Desa Ciwalengke, Majalaya, Kabupaten Bandung mengeluhkan pencemaran air yang terjadi di wilayahnya kepada kandidat Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang berkunjung ke desanya, Rabu (28/3/2018).

Menurut warga pencemaran air itu terjadi sejak komplek industri dibangun tahun 1980-an silam.

“Kami kesulitan mendapat air bersih. Saat kemarau kami kesulitan air, karena air kotor tercemar limbah pabrik, saat musim hujan limbah celupan pabrik merembes masuk ke sumur-sumur warga,” kata Iim, 50 tahun warga setempat.

Tak hanya itu kata dia, air sumur pun sering kali berubah warna, kadang merah atau hitam. “Tapi mau gimana lagi ya kita pakai aja karena enggak ada air lagi,” ujar Iim yang ditemui di rumahnya.

Menurut dia, air yang tercemar itu hanya digunakan untuk kebutuhan cuci dan mandi. Sedangkan untuk kebutuhan memasak dan konsumsi, masyarakat harus beli air galon isi ulang.

Air yang tercemar dan biasa dipakai mandi dan mencuci pekakas selama bertahun-tahun itu menyebabkan berbagai macam penyakit. “Paling banyak warga sakit ISPA dan gatal-gatal. Ada juga yang sampai diare,” ucap dia.

Menanggapi keluhan warga, calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 1 Ridwan Kamil mengatakan, solusi sementara adalah perlunya penyaringan air, yakni permunian air secara berulang-ulang agar kondisi air menjadi lebih baik.

“Salah satu gagasan saya ada instalasi penyariangan air. Air itu pada dasarnya bisa dimurnikan, tetapi tanpa sistem penyaringan teknologis, air itu bercampur dengan bakteri. Maka harus dipastikan di awal ada sistem irigasi yang bisa difilter dengan teknologi membran dan didistribusi ke rumah-rumah ketika sudah bersih,” kata Ridwan.

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini pun menambahkan, gagasan lain adalah perpanjangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke rumah warga. Jika tidak memungkinkan akan dicoba sistem artesis yang terjangkau.

“Tapi apapun itu, kami akan cari solusi dan inovasi dengan filtrasi air tadi,” kata dia.

Khusus untuk pabrik yang masih membuang limbah langsung ke Sungai, menurut Kang Emil harus ada penegakan hokum yang tegas. Diakuinya selama ini hukum lingkungan telah jelas, sehingga penegakannya seringkali diabaikan.

“Penegakan hukum terhadap pabrik yang bandel harus tegas. Ini masalah sumber airnya yang memang kotor, enggak ada pencemaran pabrik pun sudah kotor dan ini diperparah buangan industri yang enggak punya standar pengelolaan limbah,” ucap dia.

Saat blusukan tersebut, Kang Emil juga memantau aliran buangan air dari pabrik yang mengalir ke irigasi warga. Saat melewati salah satu jalur irigasi, dia dan rombongan menyaksikan air berwarna ungu. Padahal dia aliran pabrik tersebut terpasang peringatan dari Greenpeace sejak 2012 lalu. (her/rls)