Berhasil, Kemitraan Es Jeruk Segeran Ekspansi Se-Jabar

Miliki 24 Outlet, Targetkan Lounching 60 Booth Lagi 3 Bulan Mendatang

DIMINATI. Karena cukup diminati, program kemitraan Es Jeruk Segeran kini mulai melakukan ekspansi ke wilayah Cirebon dan daerah-daerah di Jawa Barat.
DIMINATI. Karena cukup diminati, program kemitraan Es Jeruk Segeran kini mulai melakukan ekspansi ke wilayah Cirebon dan daerah-daerah di Jawa Barat.

INDRAMAYU – Sekumpulan pemuda di Desa Segeran dan Segeran Kidul Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu, sangat layak didaulat menjadi inspirator dalam mengembangkan system pertanian dan meningkatkan hasil panen petani di Indonesia. Pasalnya potensi buah lokal desa berupa Jeruk mampu ditingkatkan harganya hingga dua kali lipat.

Hasil panen berupa Jeruk matang yang dahulu hanya dihargai oleh tengkulak Rp7000 / kg, kini dengan sistem pemasaran yang modern menjadi Rp15000-25000 / kg. Puluhan orang kini memperoleh penghasilan yang berkecukupan. Petani Jeruk di desa santri tersebut juga mendapatkan kesejahteraan karena meningkatnya secara drastis penghasilan mereka.

Petani jeruk di dua desa itu, kini mayoritas tidak lagi terjerat tengkulak. Mengingat hasil panen petani langsung dijual kepada buyer atau pembeli langsung dengan mendirikan wisata rintisan petik jeruk segeran.

Saat musim panen tiba, petani jeruk hanya menunggu di kebunnya, wisatawan hilir mudik datang memetik jeruk langsung dari pohonnya. Selain itu pemuda yang tergabung dalam Kelompok Petani Jeruk Segeran (Kopaja) juga memasarkan jeruk dengan menginisiasi program penjualan jeruk peras dengan mengolahnya menjadi minuman kesehatan dan dijual di 24 titik se-Kabupaten Indramayu Jawa Barat.

“Selama 2 bulan, kami sudah buka 24 titik penjualan Es Jeruk Segeran di Indramayu, Agustus ini kami akan buka 10 titik di Kota dan Kabupaten Cirebon. Setelah itu ke Majalengka Kuningan Bekasi dan daerah lainnya di Jawa Barat,” ungkap Pelopor Franchise Minuman Kesehatan Es Jeruk Segeran Indramayu Heru Nuresin Septiani.

Menurut Heru, bahan baku jeruk peras yang digunakan menjadi olahan jeruk untuk Es Jeruk Segeran saat ini makin meningkat. Hal itu akibat begitu semangatnya warga desa sentra produksi jeruk di Indramayu itu menanam buah jeruk.

“Jeruk matang kami saat panen raya bisa produksi sampai 60 ton per tahun sementara pohon yang baru berusia 2 tahun dan sudah berbuah jeruk peras jumlahnya sangat banyak. Jadi kami harus membantu petani untuk mendistribusikan hasil panen jeruk peras mereka dengan membuka pasar sendiri berupa franchise Es Jeruk Segeran,” tuturnya.

Kini nama Segeran menurut Heru makin harum dan dikenal, karena 24 outlet yang ada dipastikan memakai brand nama desanya.

Heru menceritakan, Harga jeruk Tahun 2015 dahulu hanya diterima di pasar seharga Rp7 hingga Rp8 ribu saja. Petani diakuinya mendapatkan keuntungan, tapi sangat tipis.

“Sementara harga obat untuk pemeliharaan, pekerja untuk menyiangi gulma dan membantu proses produksi sangat tinggi bukan malah menurun. Sementara harga jeruk tidak kunjung mengalami kenaikan yang signifikan. Makanya kami membuat terobosan ini,” tutur wanita berkacamata itu.

Dikatakan, bukan pemuda rasanya jika tidak kaya wawasan dan ide kreatif serta mencari solusi dalam membantu petani jeruk. Dari analisasi ekonomi dan hasil diskusi, ditemukan persoalan dasar bahwa alur distribusi hasil pertanian dari produsen (Petani, red) hingga ke konsumen masih banyak pihak yang terlibat. Sehingga margin harga dari petani hingga ke konsumen sangat tinggi.

“Rantai pemasaran di Indonesia yang masih panjang tersebut tentu sangat merugikan petani sebagai produsen. Proses tersebut menyebabkan tingginya akumulasi keuntungan yang diambil dari setiap pelaku pemasaran. Harga yang diterima petani sebagai produsen dan yang dibayarkan oleh konsumen akhir akan berbeda sangat signifikan,” jelasnya.

Lanjut Heru, pihaknya telah mengakses data, kebutuhan konsumsi jeruk masyarakat di Indramayu Majalengka Kuningan dan Cirebon, kemudian Jawa Barat dan kebutuhan skala nasional. Faktanya, Indonesia masih impor jeruk, sehingga dipastikan pasar jeruk masih sangat terbuka terutama di Indramayu dan daerah tetangga.

“Dari proses yang panjang digagaslah skema memotong alur distribusi yang panjang menjadi sangat simple. Yakni petani langsung dipertemukan dengan buyer (pembeli, red) terakhir atau konsumen. Pemasaran dilakukan secara online difasilitasi para pemuda desa yang mendelivery jeruk petani langsung ke rumah-rumah pemesan secara online, baik melalui facebook, fanspage plus memaksimalkannya dengan beriklan (facebook ads, red), instagram, akun youtube dan yang lainnya,” kata Heru.

Cara tersebut diawal cukup efektif karena bisa meningkatkan harga jeruk dari 7 ribu menjadi 10 ribu setiap kg. Namun besarnya produksi petani hingga 50 ton per tahun dari sekitar 11 hektare perkebunan jeruk tidak bisa terjual maksimal. “Makanya diinisiasilah skema wisata petik Jeruk Segeran. Sebuah terobosan baru yang belum pernah ada sejak Tahun 70an Jeruk Segeran di tanam di Desa Santri itu,” ucapnya.

Inovasi itu dikuatkan dengan dukungan pemerintah Desa Segeran yang mau menerima ide kreatif dan inovatif tersebut dengan dibentuknya Kelompok Penggerak Pariwisata tingkat desa. Dengan rutin mengikuti pelatihan dan seminar di Indramayu dan daerah lain yang jauh lebih dahulu menyelenggarakan wisata berbasis agro.

“Alhasil, ikhtiar tersebut berbuah manis, kebun jeruk yang berada di Wilayah Sawah Bata Gang Kartiman Blok Bedug, Mundu dan Blok Gondang Desa Segeran Kidul Kecamatan Juntinyuat itu diserbu ribuan wisatawan dan puluhan ton jeruk dalam waktu singkat habis terjual,” ucap Heru.

Tahun 2020 inilah menurut Heru, saat yang tepat untuk menyelesaikan problem petani yang kembali muncul dimana jeruk peras jumlahnya sangat tinggi dimana pohon yang ditanam awal Tahun 2018 sudah bisa memproduksi buah jeruk peras.

“Sudah menjadi rumus ekonomi jika barang atau komoditas melimpah, namun pasarnya sangat kecil maka harganya akan jatuh dan sangat murah. 1 Kg jeruk peras hanya dihargai Rp3-4 ribu saja mengikuti harga jeruk peras di sentra jeruk nasional seperti Jember, Banyuwangi Pontianak, Medan dan yang lainnya,” terangnya.

Melihat bahan baku jeruk peras yang melimpah, pemuda di Kompepar yang tugas utamanya adalah mempromosikan pariwisata desa menciptakan Es Jeruk Segeran agar dijual secara luas diluar musim panen jeruk matang atau musim wisata petik Jeruk Segeran dibuka. “Inisiatif itu diambil atas analisa bersama, bahwa jeruk yang fresh baru petik dan dibuat Es Jeruk tidak ada di Indramayu. Sehingga jika diciptakan pasarnya akan sangat prospektif,” jelas Heru.

Terobosan tersebut juga direspon antusias pasar, 1 hari bisa menjual 250 gelas dengan system online dengan menghabiskan 25 kg setiap hari jeruk peras. Pembelian jeruk peras ke petani secara otomatis lebih tinggi, yakni Rp6 ribu / kg atau dua kali lipat dari harga biasanya. “Mengingat pasarnya sangat baik. Untuk mendekatkan pelayanan dengan pecinta Jeruk Segeran digagaslah sistem kemitraan semi franchise,” terang Heru.

Kepentingannya kata Heru, juga untuk meningkatkan citra positif desa di daerah, dimana brand Desa Segeran ada di banyak titik strategis di Kabupaten Indramayu. “Namun, target paling utama adalah membantu memasarkan jeruk peras petani yang jumlahnya mencapai 30 ton dalam setiap musim agar lebih tinggi harganya dan terjual secara keseluruhan,” pungkasnya. (sof)